Solusi Kemacetan Jakarta Dari Jokowi, “Move People Not Cars”

Standar

Kota Jakarta, sebagai ibu kota Negara Republik Indonesia memang menjadi kota paling diincar oleh banyak orang untuk melakukan kegiatan bisnis, pemerintahan. Tingginya pertumbuhan penduduk dan juga banyaknya pendatang di wilayah ini menjadikan Jakarta sangat padat serta perputaran ekonomi yang tinggi pula, namun itu semua tentunya memunculkan berbagai permasalahan yang sangat komplek. Permasalahan yang sangat mencolok di kota ini adalah kemacetan dan banjir, dan kali ini kita akan membahas masalah yang berkaitan dengan dunia otomotif, yaitu kemacetan. Berbagai solusi sudah sering diungkapkan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, mulai dari solusi biasa hingga solusi yang penuh kontroversi sepert yang belum lama diberlakukan yaitu DP minimal yang tinggi untuk pembelian kendaraan bermotor. Dari semua alternatif solusi sebagian sudah dilakukan namun hal itu tidak cukup, terbukti permasalahan kemacetan semakin hari semakin parah.
Berkaitan pemerintahan daerah yang sedang berada pada tahap pemilihan figur pemimpin periode baru, pemecahan masalah kemacetan menjadi semacam “syarat” agar bisa memenuhi harapan masyarakat Jakarta. Seperti yang kita ketahui, pemilu tahap I sudah selesai dan menghasilkan 2 pasangan calon gubernur DKI yaitu Foke – Nara dan Jokowi – Ahok. Solusi dari gubernur sebelumnya mungkin sebagian dari pembaca sudah bisa mengetahui dari pelaksanaan selama mereka menjabat, namun Jokowi sebagai figur baru di Jakarta tentunya juga sudah mempersiapkan langkah-langkah pemecahan berbagai permasalahan di Jakarta, terutama kemacetan. Apa saja langkah pemecahan masalah kemacetan dari Jokowi? berikut diantaranya:
Konsep: MOVE PEOPLE, NOT CARS
Terobosan yang bisa dibilang out of the box, benar-benar baru. Jika selama ini pemerintah selalu berfikir keras untuk mengurangi laju kendaraan serta membuat berbagai sistem lalu-lintas agar jutaan kendaraan bisa melaju di Jakarta, kini jokowi memberi pemikiran lain yaitu: mencari solusi bagaimana menggerakkan manusianya, menggerakkan masyarakatnya dan bukan menggerakkan mobilnya. Beliau juga mengunkapkan bahwa salah satunya, kota yang sehat adalah kota yang banyak pejalankakinya. Penyebab utama masalah kemacetan adalah salahnya konsep tata kota dan sistem transporttasi. Berbagai langkah yang bisa diambil sebenarnya sudah diungkapkan oleh banyak pihak sejak lama namun kerana banyak gubernur yang tidak konsisten melanjutkan konsep dari pemerintahan sebelumnya menjaadikannya semrawut seperti saat ini.
-Transportasi massal (bus way, railbus, monorail dan subway)
Tahapan dari pembangunan sisten transportasi adalah busway, kemudian rail bus, kemudian monorail dan terakhir subway. Bus way, Sistem transportasi yang satu ini akan diteruskan oleh Jokowi jika menjabat sebagai gubernur, namun di titik-titik tertentu yang sangat padat akan diganti dengan Railbus. Seperti yang sudah diterapkan di kota Solo, kota dimana Jokowi menjadi wali kota. Dengan kapasitas ratusan penumpang maka sistem ini akan lebih efektif, masyarakat tidak perlu lama mengantri di halte.


– Jangan terus menambah fasilitas untuk mobil
Apa yang dimaksud fasilitas untuk mobil? yaitu jalan tol, jalan layang, sentra parkir dan sebagainya. Dengan adanya “fasilitas” tersebut mendorong masyarakat untuk lebih suka menggunakan mobil dan berbondong-bondong menuju tempat-tempat dengan lahan parkir yang bagus dan luas tersebut sehingga menimbulkan kemacetan.


– Pemukiman Terpadu
Mengapa terjadi kemacetan terutama saat jam berangkat / jam pulang kerja? karena sebagian besar para staf/karyawan kantor bertempat tinggal jauh dari kantornya, bahkan banyak yang dari luar jakarta. Jokowi mencontohkan, daerah Kuningan, Sudirman, Tamrin, isinya kantor-kantor dan kantor. Seharusnya disetiap dekat daerah perkantoran harus ada permukiman, sehingga sebagian besar para pekerja tidak perlu menempuh perjalan jauh, cukup dengan jalan kaki, atau naik bus, satu halte sudah sampai. Pemukiman terpadu akan dibangun dan diperuntukkan bagi para karyawan dengan harga murah dan menengah, sehingga tidak hanya bisa dijangkau kalangan atas saja. Pemukiman terpaduterdiri dari, lantai bawah hingga atas adalah, pasar, puskesmas dan pelayanan kesehatan, baru atasnya adalah apartemen/rumah susun untuk tempat tinggal masyarakat dengan harga murah dan menengah.

Dari semua langkah di atas, diperhitungkan, pemukiman terpadu adalah yang paling berpengaruh pada berkurangnya kemacetan jalan. Mobilitas orang akan sangat berkurang drastis, kegiatan masyarakat di jalan menjadi sangat berkurang. Transportasi umum juga akan berpengaruh pada masalah kemacetan tapi tidak akan sebesar pemukiman terpadu tersebut.
Itulah sebagian solusi dari Jokowi, bagaimana menurut anda?

7 responses »

  1. point no 1 & 2 goood. untuk point no.3 mustahil mas bero, knp mustahil
    1. rencana tata ruang & tata wilayah jakarta 2012-2030 yg baru disahkan menunjukkan daerah pemukiman kebanyakan daerah pinggiran/perbatasan jakarta dg daerah penyangga seperti bodetabek.
    2. pemukiman dekat perkantoran, harga propertinya ga terjangkau.

  2. ini bukan konsep/terobosan baru karena para pakar transportasi Indonesia dan luar negeri sudah mengajukannya terlebih dahulu tapi memang hanya dalam forum akademis/institusional saja. Jadi belum dikenal di ranah publik. Konsepnya memerlukan perubahan perilaku mobilitas masyarakat dan koordinasi antar lembaga pemerintah & pemerintah daerah lainnya sifatnya sangat krusial.
    partisipasi dan sikap positif dari masyarakat juga sangat penting karena kalo tidak ada, percuma saja.

  3. ah. ga out of the box kok. kalo mau ngurangin macet memang jangan nambah kendaraan dan sistem (kayak calon satunya). di negara maju contohnya amerika dan jepang, yang punya kendaraan itu yang bener bener orang kaya. sisanya pake bis, kereta, atau berjalan kaki. lah di sini, wong kecil aja bisa punya motor. –a
    solusi praktisnya memang mengurangi pengguna kendaraan. jadi ga out of the box. menggerakkan masyarakat artinya menggerakkan hati nurani orangnya. ya, kita lihat saja karakter orang kita mau ga digerakkan. so, this is not out of the box. balik maning ke kesadaran masyarakat namanya. hadeh –a. tapi siapapun gubernurnya, warga ‘yang ngerti’ ya dukung aja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s